Senin, 17 Oktober 2011

Cara Pandang


Hidungku memang kecil, posturku juga pendek, tapi badanku cukup berisi kok, setidaknya kalau orang melek pasti bisa kelihatan. Tapi mengapa sering kali seolah tak terlihat di mata orang ya? Mungkinkah ini yang namanya dipandang sebelah mata? Aku memang tak bisa memaksa orang untuk selalu memandang aku atau memperhitungkan aku. Karena penilaian orang keluar dari apa yang mereka lihat. Aku tak yakin kalau mereka menilai juga dari apa yang mereka rasa, sebab jika seseorang belum benar-benar terasa berarti bagi mereka, mereka tidak terlalu memasukkannya dalam perasaan. 

Aku suka dengan nats I Samuel 16:7: Tetapi berfirmanlah Tuhan kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakannya yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati.”

Itu juga yang menjadi penghiburan bagiku ketika perasaan tak diangap, tak dihiraukan, dipandang sebelah mata itu muncul (meskipun tidak selalu, tetapi hampir cukup sering). Aku tahu kalau orang bersikap seperti itu kepadaku, karena mereka menggunakan cara pandang mereka sendiri secara manusia. Tetapi yang terpenting bagiku adalah bagaimana cara pandang Tuhan, bagaimana Tuhan tetap menilai aku berharga. Bersyukurlah orang yang bisa menghargai orang lain, termasuk menghargai aku, seperti apapun dia di mata manusia, sebab aku akan mengira bahwa orang yang seperti itu telah memiliki cara pandang Tuhan. Aku pun rindu bisa memiliki cara pandang itu, dan aku berusaha untuk benar-benar menghidupinya. 

Memang cukup sering juga ketika orang bisa menganggap aku, bahkan ada kalanya juga bisa menjadi perhatian orang lain, tetapi itu bukan karena cara pandang mereka. Itu hanya karena ada sesuatu yang aku lakukan; entah itu sesuatu yang baik ataupun karena kesalahanku, apalagi kebingunganku. Dan hal itu bukan jaminan bahwa mereka akan selalu menganggap aku.

Ketika aku renungkan, bagaimana mungkin orang-orang yang sepertinya kurang memandang aku bisa menerima aku, bagaimana mungkin aku bisa turut dalam hal-hal penting, misalnya aktif dalam keorganisasian, bisa diterima di kepanitiaan, dan hal-hal semacam itu yang bagi aku itu penting. Aku yakin, itu semua bisa terjadi karena itu adalah anugerah Tuhan. Dan semuanya hanya karena kasih karunia. Itulah sebabnya aku tetap bisa bertahan hingga sekarang, karena DIA yang memberi kesempatan kepadaku itu tak hanya diam. DIA yang menolong aku saat aku tak mampu, DIA yang menyemangati aku saat aku lesu, DIA yang menghiraukan aku saat tak ada yang memperhatikanku. Itulah sebabnya selalu ada sukacita di hatiku… I LOVE YOU, LORD…
Soundtrack:
Saat ku sendiri tiada seorang pun
Yang memperhatikanku seperti KAU Tuhan
Saat ku berjalan dalam lembah kelam
Kutahu KAU selalu sertaku
Tangan kuat yang menopangku
S’lalu menuntunku
Ku tak mau jalan sendiri
Yesus ku perlu kasihMU
Ke perlu kuasaMU sampai akhir hidupku

2 komentar:

  1. nice writing..
    but i'm sorry it's a little difficult to see
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you :)
      Do you mean to see the meaning or there's problem with the background? :D hehe

      Hapus