Dan lagi, di saat saya harus belajar untuk test, justru saat
seperti inilah saya punya pemikiran yang bisa saya tuangkan lewat tulisan.
Pikiran ini timbul dari apa yang telah saya alami hari ini, yang telah membuat
saya berfikir sampai pada titik tentang kata “nurut”.
Saya teringat saat saya masih kecil dulu, saya sering dengar
kalau didoakan supaya menjadi anak yang penurut, supaya saya dikaruniai Roh
Penurut, yang mana dimaksudkan supaya saya nurut dengan orang tua. Dan bisa
dibilang, saya pun bertumbuh sebagai anak yang bisa dibilang cukup penurut lah.
Tetapi nampaknya karakter saya benar-benar terbentuk sebagai penurut, bukan
hanya pada orang tua saya. Memang tidak selalu saya menurut, tetapi sebagian
besar dari apa yang saya dengar, ya saya lakukan, selama itu tidak bersebrangan
dengan prinsip yang telah ditanamkan dalam pemikiran saya atau dengan apa yang
saya tau baik-buruknya. Saya pilah-pilah juga lah.
Akan tetapi, itu terbawa sampai saya dewasa ini. Suatu
ketika saya mendapat masukan dan saya berusaha melakukan itu jika memang saya
pandang itu baik, atau jika memang saya tidak tahu harus bagaimana. Lalu dari
sisi yang lain ternyata memandang apa yang saya lakukan itu kurang tepat. Saat
seperti ini kerap kali muncul saat saya menjadi pemimpin. Saya senang dengan
demokratis, jadi apa yang menjadi suara bersama, itu yang saya lakukan. Tetapi,
lagi-lagi karena saya nurut, ujung-ujungnya saya dibilang kurang tegas.
Dan hari ini, saya mendapat suatu masalah yang menimpa saya.
Awalnya dari salah jalur untuk berhenti di lampu merah. Kemudian seorang supir
mengingatkan saya dengan member isyarat. Karena saya kurang paham dengan
isyaratnya, saya pun nurut saja sesuai dengan apa yang saya dan teman saya yang
memonceng adi pahami. Luruslah kami berjalan menerobos lampu merah. Dan
akhirnya, kami pun ketilang. Dengan berbekalkan surat tilang, itu berlaku
sebagai sebuahundangan untuk menghadiri sidang. Jujur, saya takut. Tetapi mau
saya bayar ditempat ternyata uang yang saya bawa tidak cukup untuk membayar
saat itu juga. Jadi saya nurut saja lah maju ke pengadilan.
Sepulangnya, saya bersikap berbeda di rumah. Pulang-pulang
langsung tidur sore. Setelah itu ibu saya bertanya. Saya pun bercerita. E’eh…malah
sekalian disalahkan. Aduh, hari tetapi saya percaya, itu semua sudah terhenti
sejak tadi. Sejak saya stop itu, saya yakin, selanjutnya saya akan beruntung
lagi.
Belajar bersyukur lah atas suka maupun duka. Toh hidup itu
tak selalu bermandikan cerahnya sinar matahari, dan juga tak selalu juga
tertutup awan pekat. Semua ada masanya untuk senang dan prihatin. Sekalipun
sebenarnya beban saya hari ini bukan hanya itu, tetapi saya akan tetap optimis
mendapatkan jalannya satu per satu.
Jadi, untuk menjadi seorang penurut itu ada enaknya, ada
enggaknya. Yang terpenting adalah sikap bijaksana yang bisa menuntun kita ambil
keputusan untuk menurut akan sesuatu atau untuk tidak menurut. Karena kita pun
perlu selektif dalam menuruti segala sesuatu. Seorang hamba Tuhan pernah
melukiskan karakter saya ini seperti vacuum
cleaner, yang bisa menyerap apa yang saya denngan/ jumpai. Tetapi beliau
juga berpesan supaya saya bisa memilah-milah, apa yang baik diserap, yang
kurang baik dibuang saja.
Demikian untuk pengalaman hari ini. Semoga ada hikmah yang bisa kita pelajari bersama dari apa yang saya alami ini. Tuhan memberkati ^_^
Demikian untuk pengalaman hari ini. Semoga ada hikmah yang bisa kita pelajari bersama dari apa yang saya alami ini. Tuhan memberkati ^_^