Minggu, 21 Oktober 2012

Jawaban

Jujur, beberapa hari belakangan, saya merasa berada pada titik puncak, di mana saya merasa bingung, bimbang, iri, kecewa, minder, egois, blank,dan hal-hal semacam itu. Tetapi tadi sore, saya merasa sangat dihiburkan dan dikuatkan.
Sejak awal, WL mengatakan bahwa kita akan merasakan cinta kasih sepanjang ibadah, rasanya selaput-selaput yang menghalangi sukacita saya seperti rontok. Saya merasa bersalah, menyesal. Kemudian saya berdamai dengan Tuhan, dan saya menikmati hadiratNya.
Pujian yang dinaikkan pun juga serasa memberikan semangat, peneguhan, dan kekuatan. Dan pada pemberitaan firman pun, firman itu sangat menguatkan saya.
Yang masih terus terngiang dalam telinga saya adalah, bahwa Tuhan menginginkan saya, Tuhan menyayangi saya, Tuhan ga pilih kasih. Kata-kata itu seolah menjadi jawaban atas pertanyaan, sekaligus wadulan saya (mungkin hampir bisa dibilang protes) yang saya ajukan beberapa malam ini. Dan saya sangat bersukacita mendengar perkataan itu.
Sekalipun jalan Tuhan itu ga terlihat jelas, tapi percaya saja, tuhan tahu yang terbaik. Ilustrasinya adalah orang tua yang mengimunisasikan anaknya (disuntik). Orang tua tahu kalau disuntik itu sakit rasanya, tapi orang tua membiarkan anaknya menangis kesakitan dulu, karena orang tua tahu kalau itu demi kebaikan anaknya. Begitupun kita. Ada kalanya Tuhan ijinkan kita merasa kesakitan dalam hidup ini, tapi Tuhan ijinka itu karena DIA tahu, kalau itu juga demi kebaikan kita.
Nah, saudara-saudara... jalan Tuhan itu memang tak terselami. Karena itu, jangan hanya berfokus pada jalan yang pengen kita tahu, atau dengan kata lain jangan hanya minta karya2nya Tuhan. The important thing is 'milikilah hubungan yang dekat dengan Tuhan' atau dengan kata lain, berfokuslah dalam pengenalan pribadi Kristus itu sendiri.
GBU :)

Jumat, 31 Agustus 2012

Semester 7 feat. Motivasi


Semester ini terasa seperti semester di mana saya terbangun dari tidur saya. Karena, setelah libur selama beberapa bulan (sekitar 4 bulanan) saya harus kembali kepada kehidupan nyata saya sebagai seorang mahasiswa.
Yach…dan SIASAT pun membayang didepan mata. Satu malam sebelum SIASAt berlangsung, saya baru tahu kalau ada kebijakan baru, di mana system yang tadinya semester akan diubah menjadi trimester, dank arena itu maka beban SKS yang diberikan pun menyusut. Ketakutan menghantui saya dan teman-teman.
Singkat cerita, kebijakan tersebut tidak (atau mungkin belum) dijalankan. Kami kembali pada system yang lama, yaitu semester. Karena kelas yang disediakan sedikit, banyak di antara kami yang mendapat sedikit kelas pada saat SIASAT, dan pada adjustment pun masih kekurangan kelas, termasuk saya. Pada adjustment yang kedua, saya melakukan hal kurang bijak, sehingga saya hanya mempunyai 14 SKS dari 18 SKS yang sesuai flowchart. Malamnya saya mendapat tambahan 1 matakuliah, jadi 16. Saya mencoba minta 1 kelas yang sebenarnya justru menjadi prioritas saya saat siasat, yaitu Proposal.
Saya mendapat masukan dari dosen kepala progdi untuk mempertimbangkan permintaan saya tersebut. Tetapi saya tetap mencari hingga akhirnya mendapat memo yang saya butuhkan. Tiket sudah di tangan, saya menghubungi pihak yang berwenang kembali, dan masih dengan pertimbangan. Sampai akhirnya, sore itu saya datang dan mendapatkan kelas tersebut.
Ketakutan saya yang baru adalah: mampukah saya? Haruskah ada 1 mata kuliah yang saya lepaskan? Tetapi saya mendapat dukungan dari teman-teman saya untuk tetap berjuang. Hal-hal yang masih terngiang di benak saya:

  •  Itu kan sesuai flowchart, kalau yang lain bisa, kenapa kamu enggak?

  • Itu kamu mendapat kesempatan, ambillah kesempatan yang kamu punya, jangan disia-siakan.

  • (*kalau yang ini sebelum mengambil proposal) Ayo Na, kamu pasti bisa. Kalau di drama aja kamu bisa, apalagi di kehidupan nyata.

  • Ayo, jangan takut Na, kan perang dimulai. Jangan takut sebelum berperang.


Dan ada beberapa yang lain juga. Dari situ saya menemukan bahwa untuk bisa mensupport dan memberi semangat itu tak perlu mencari motivator-motivator ternama. Tak perlu sibuk mencari-cari buku tentang motivasi. Karena teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita sesungguhnya adalah motivator-motivator yang hebat!
Dan malam pada adjustment terakhir pun saya tertidur setelah lelah pulang malam. Jadi saya hadapi 18 SKS ini dengan percaya bahwa Tuhan ijinkan saya ambil 18 SKS ini. Keesokan harinya (hari saat saya menusil tulisan ini), saya mengikuti doa persiapan untuk Welcoming Service di kapel.
Di situ saya mendapat 1 ayat yang sangat memotivasi saya, yaitu:
Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmatdalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. (Pengkhotbah 9:10)
Baiklah, 18 SKS dan beberapa murid les ada di tangan saya untuk dikerjakan. Maka saya akan mengerjakan itu sekuat tenaga, selagi saya masih hidup.
Bagi banyak orang, masa muda adalah masa di mana kita memuaskan diri untuk bersenang-senang. Memang itu tidak sepenuhnya salah, tetapi bukan hanya serta merta bersenang-senang, toh itu tidak perlu berlebihan. Karena senang itu akan timbil juga ketika saya bisa melakukan sesuatu dan berkarya, maka saya mau melakukan apa yang saya bisa, berkarya, selagi saya masih muda.
Tuhan memberkati ^_^

Kamis, 31 Mei 2012

Penurut --> Benar atau Salah??


Dan lagi, di saat saya harus belajar untuk test, justru saat seperti inilah saya punya pemikiran yang bisa saya tuangkan lewat tulisan. Pikiran ini timbul dari apa yang telah saya alami hari ini, yang telah membuat saya berfikir sampai pada titik tentang kata “nurut”.
Saya teringat saat saya masih kecil dulu, saya sering dengar kalau didoakan supaya menjadi anak yang penurut, supaya saya dikaruniai Roh Penurut, yang mana dimaksudkan supaya saya nurut dengan orang tua. Dan bisa dibilang, saya pun bertumbuh sebagai anak yang bisa dibilang cukup penurut lah. Tetapi nampaknya karakter saya benar-benar terbentuk sebagai penurut, bukan hanya pada orang tua saya. Memang tidak selalu saya menurut, tetapi sebagian besar dari apa yang saya dengar, ya saya lakukan, selama itu tidak bersebrangan dengan prinsip yang telah ditanamkan dalam pemikiran saya atau dengan apa yang saya tau baik-buruknya. Saya pilah-pilah juga lah.
Akan tetapi, itu terbawa sampai saya dewasa ini. Suatu ketika saya mendapat masukan dan saya berusaha melakukan itu jika memang saya pandang itu baik, atau jika memang saya tidak tahu harus bagaimana. Lalu dari sisi yang lain ternyata memandang apa yang saya lakukan itu kurang tepat. Saat seperti ini kerap kali muncul saat saya menjadi pemimpin. Saya senang dengan demokratis, jadi apa yang menjadi suara bersama, itu yang saya lakukan. Tetapi, lagi-lagi karena saya nurut, ujung-ujungnya saya dibilang kurang tegas.

Dan hari ini, saya mendapat suatu masalah yang menimpa saya. Awalnya dari salah jalur untuk berhenti di lampu merah. Kemudian seorang supir mengingatkan saya dengan member isyarat. Karena saya kurang paham dengan isyaratnya, saya pun nurut saja sesuai dengan apa yang saya dan teman saya yang memonceng adi pahami. Luruslah kami berjalan menerobos lampu merah. Dan akhirnya, kami pun ketilang. Dengan berbekalkan surat tilang, itu berlaku sebagai sebuahundangan untuk menghadiri sidang. Jujur, saya takut. Tetapi mau saya bayar ditempat ternyata uang yang saya bawa tidak cukup untuk membayar saat itu juga. Jadi saya nurut saja lah maju ke pengadilan.

Sepulangnya, saya bersikap berbeda di rumah. Pulang-pulang langsung tidur sore. Setelah itu ibu saya bertanya. Saya pun bercerita. E’eh…malah sekalian disalahkan. Aduh, hari tetapi saya percaya, itu semua sudah terhenti sejak tadi. Sejak saya stop itu, saya yakin, selanjutnya saya akan beruntung lagi.

Belajar bersyukur lah atas suka maupun duka. Toh hidup itu tak selalu bermandikan cerahnya sinar matahari, dan juga tak selalu juga tertutup awan pekat. Semua ada masanya untuk senang dan prihatin. Sekalipun sebenarnya beban saya hari ini bukan hanya itu, tetapi saya akan tetap optimis mendapatkan jalannya satu per satu.

Jadi, untuk menjadi seorang penurut itu ada enaknya, ada enggaknya. Yang terpenting adalah sikap bijaksana yang bisa menuntun kita ambil keputusan untuk menurut akan sesuatu atau untuk tidak menurut. Karena kita pun perlu selektif dalam menuruti segala sesuatu. Seorang hamba Tuhan pernah melukiskan karakter saya ini seperti vacuum cleaner, yang bisa menyerap apa yang saya denngan/ jumpai. Tetapi beliau juga berpesan supaya saya bisa memilah-milah, apa yang baik diserap, yang kurang baik dibuang saja.

Demikian untuk pengalaman hari ini. Semoga ada hikmah yang bisa kita pelajari bersama dari apa yang saya alami ini. Tuhan memberkati ^_^

Selasa, 10 April 2012

Gejala Cinta Yang Mendatangkan Jarak


Kata orang yang sedang jatuh cinta, cinta itu indah, sejuta rasanya, membuat orang selalu bahagia. Orang patah hati bilang, kalau cinta itu pengorbanan, bisa bahagia walau pun tidak bersama dengan orang yang dicintai itu, tetapi dengan syarat : asal bisa melihat orang yang dicinmtai it bahagia, walau pun dengan orang lain. Orang yang sedang punya gebetan, berpikir bahwa cinta adalah perjuangan. Bahkan ada yang berprinsip kalau sebelum janur kuning melengkung, maka masih bisa merebut pujaan hatinya itu. Nekadnya lagi kalau yang diincar itu sudah dimiliki orang, mereka berani berkata “ku tunggu jandamu”. Wah…wah…wah… samapi sedemikian rupanya orang berjuang demi sesuatu yang disebut CINTA.

Akan tetapi, tanpa disadari, ada kalanya orang justru menolak cinta yang ada untuk dirinya. Kalau ada yang bilang cinta itu membuat orang bahagia, kenapa ada yang justru bersedih darena cinta. Misalnya, orang yang bersahabat. Biasanya mereka akan bercanda-tawa, berbagi apapun dengan leluasa. Tetapi ketika satu pihak menunjukkan tanda-tanda yang lebih (ada indikasi jatuh cinta), maka tak jarang pihak yang lain akan menjaga jarak. Atau dengan teman biasa lah. Misalnya mereka baru mau dekat, mulai akrab, sehingga mulai ada perhatian yang lebih. Lalu karena salah satu pihak mengira itu adalah gejala cinta, maka dia akan jaga jarak.
Sungguh ironis memang, kalau ada orang yang mati-matian memperjuangkan cinta, tetapi di lain tempat ada yang kalang kabut takut kalau dicintai. Iya kalau yang menunjukkan tanda-tanda perhatian lebih tadi itu benar-benar jatuh cinta?! Lha kalau tidak?? 

Saya sendiri misalnya, dalam kekosonganku ini (kosong=lagi ga ada pacar) maka saya pun butuh tempat untuk mencurahkan perhatian yang saya punya. Tetapi, itu tidak serta-merta berarti saya akan mencari pelarian sebagai kekasih untuk dicintai, bukan? Karena saya tidak demikian. Saya mempunyai teman dan orang-orang yang ada di sekitar saya, atau orang yang bisa berkomunikas dengan saya. Kepada mereka lah saya memberikan perhatian. Bisa jadi itu temam kuliah, teman SMSan, teman chatting, teman pelayanan, dan yang lain sebagainya lah (pasti Anda juga tahu, kurang-lebihnya apa saja). Mungkin karena memang kerinduan saya adalah menjadi berkat untuk orang lain, maka saya memperhatikan orang itu dengan senang hati dan tanpa bermaksud yang lain. Seandainya pun ada hal lain yang terjadi (misalnya sampai pacaran), yach anggap saja itu bonus dari Tuhan :D. Tetapi kembali lagi soal berkat, yang saya rasakan adalah: saya senang memperhatikan orang yang butuh perhatian, menemani orang yang kesepian, dan ada untuk yang membutuhkan lah intinya. Kerena terkadang pada saat seperti itulah pertolongan itu menjadi terasa berharga. Coba kalau orang itu baik-baik saja, butuh bantuan (itu pasti) tetapi tidak begitu mendesak atau tidak benar-benar perlu. Maka kalau ditolong pun juga akan cepat lupa lagi. Saya tidak bermaksud mengharapkan diingat orang ketika menolongnya, tetapi ini berbicara tentang perasaan orang yang ditolong itu merasa diberkati atau tidak. Kalau yang ditolong orang sedang butuh kan dia akan merasa diberkati. Nah… itu yang sukacitanya luar biasa. 

Setelah meluas, sekarang kita kembali kepada cinta yang tadi. Nah, tidak semua orang yang memnunjukkan perhatian lebih itu karena bermaksud lain atau gejala cinta. Memperhatikan dan diperhatikan itu indah. Bukannya malah dijauhi, sebaliknya harusnya disyukuri. Karena itulah sebabnya mengapa orang perlu benar-benar MENGERTI tentang apa itu KASIH. Juka seseorang sudah mengerti kasih, maka sikap dan perhatian orang yang baik kepadanya akan disyukuri, bukan malah dicurigai. Jadi, bersyukurahn karena ada orang-orang yang mengasihimu. Jangan mengatakan kasih sayangnya itu lebay hanya karena orang lain tidak melakukan hal yang sama. Yang perlu dipertanyakan adalah orang lain yang kurang itu, kenapa kok masih kurang… Begitu…

Rabu, 04 April 2012

Tanggung Jawab

Sebenarnya tangung jawab itu bila dinikmati akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi terkadang, justru karena saking sukanya orang diberi tanggung jawab, akhirnya ada tawaran sana-sini diterima, dengan prinsip yang begitu rupa. Bisa dibilang orang yang punya tanggung jawab itu menjadi orang yang berdampak, atau punya pengaruh, bahkan bisa jadi punya kekuasaan. 
Akan tetapi terkadang kita lupa akan kemampuan kita. Yang kita tahu, bila orang percaya, kita pikir kita bisa. Memang tidak semua orang demikian, namun sebagian besar gejala yang saya lihat seperti itu. Bahkan saya sendiri termasuk salah satunya yang suka diberi tanggung jawab. Yang saya cari adalah arti hidup, ingin menjadi berkat, dan ingin punya dampak. Kerinduan saya seperti doa Yabes, yang mem,inta daerahnya diperluas, yang berarti tanggung jawabnya ditambahkan. Aji mumpung pun boleh menjadi jurus alternatif saat diperlukan.
Tetapi di saat-saat seperti ini saya baru menyadari, bahwa saya tak sekuat yang saya pikirkan. Saya hanya mengerjar apa yang saya pikirkan. Tanggung jawab banyak telah saya dapatkan. Namun terkadang semua jadi terasa berat untuk dikerjakan. Belum lagi kalau kondisi tubuh sedang melemah, aduh... rasanya tambah berat saja.
Itulah sebabnya kita butuh hikmat untuk mengambil setiap keputusan. Mungkin memang saya perlu berlajar lebih lagi untuk membedakan mana yang benar-benar menjadi bagian saya dan yang sekedar tawaran untuk saya. Tetapi yang terpenting adalah, belajar untuk setia dala perkara kecil. Setelah mampu, barulah kita benar-bemar siap untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar.
Hal semacam ini memang sudah begitu sering kita dengar, bahkan mungkin Anda bisa bosan. Tetapi sadarilah, bahwa ternyata semua itu tidak semudah yang kita kira untuk bisa meakoninya.

Rabu, 15 Februari 2012

How if I Love You?

Last night, when I made my Poetry journal, I cannot consentrate well. I think a lot of things about people around me. One of them is someone that I know just some months ago. Honestly, I don't know what I feel to him. He is not special, not attract me, and he doesn't like what I want. But I don't know I care him. Because of that, I write this poem:

How if I Love You?
By Ratna Widiarti


I knew you just in short time
I was with you for a vision aim

Joking and singing make us fun
Just one night and three days
But so meaningful for me

I sad to end that day
Although I know we will meet again
But I’m not sure that we can
Have those feeling once more

I’m afraid to lost you
But I’m more afraid
How if I love you?