It
is nice to be important, but it is important to be nice. Suatu ungkapan yang
sangat benar menurut saya, bahwasanya kita jangan hanya senang untuk dijadikan
orang penting, akan tetapi hal yang tak kalah penting adalah bagaimana kita
menjadi pribadi yangmenyenangkan.
Sering
terlintas dalam benak saya bahwa saya ingin menjadi orang yang hebat, dalam
artian serba bisa, bisa ini-itu, tetapi semata-mata karena ingin di kenal dan
diterima orang. Sungguh, suatu kedagingan. Saya lebih termotivasi lagi untuk menjadi
orang “hebat”, ingin menunjukkan segala kemampuan saya, saat saya sedang
menyukai seseorang. Saya ingin orang yang saya sukai kagum pada saya,
memperhitungkan saya, dan otomais menyukai saya (pikir saya). Akan tetapi,
setelah beberapa kali saya rasakan sendiri, ternyata kelebihan dan kehebatan
yang kita punya ini bukanlah jaminan kalau orang akan menerima kita.
Contohnya
mudah, saya pernah menyukai seseorang. Saya berusaha unjuk kebolehan saya, sama
mempersibuk diri (sehingga dia tahu kalau saya orang penting :D). Tetapi
ternyata hal itu tidak membuat dia lantas menyukai saya begiu saja. Yang kadang
lebih menggemaskan adalah, kalau ternyata orang itu malah menyukai seseorang
yang menurut saya tidak lebih hebat dari saya.
Entah
memang saya yang tidak tahu kehebatannya apa memang orang yang saya suka yang
kurang ngerti kalau saya lebih hebat. Tetapi akhirnya ada suatu hal yang dapat
saya simpulkan, bahwa perasaan suka kepada seseorang itu bukanlah sekedar kita
mencari mana yang lebih hebat, yang lebih bertalenta, atau lebih yang lainnya.
Karena jika kita terus mencari yang “lebih”, pasti selalu ada yang lebih jika
dibandingkan dengan kita atau dia. Seperti peribahasa mengatakan, di atas
langit masih ada langit. Jadi itu semua sesungguhnya hanya perkara hati.
Ketika
saya menyadari bahwa termotivasi menjadi hebat agar seseorang menyukai kita itu
adalah sebuah kesia-siaan, maka saya coba renungkan lagi. Apakah kita salah
kalau menjadi orang hebat? Tentu saja tidak. Tetapi motivasi, ya kuncinya
adalah motivasi. Kalau kita menjadi hebat karena tujuan kita untuk kemuliaan
Tuhan, maka tidak ada yang percuma, kehebatan kita akan menjadi berkat. Tetapi
kalo hanya sekedar demi seseorang yang disukai, nah itu dia yang menuju pada
kesia-siaan.
Jadi,
ketika engkau menyukai atau menyayangi seseorang, menangkanlah hatinya, bukan
pamer kehebatanmu. Dan jadilah orang hebat, karena dengan menjadi orang hebat,
kamu akan diterima dan disukai orang. Dalam hal ini, disukai orang menjadi hasilmu,
bonus untukmu, bukan tujuanmu, karena tujuan yang tepat adalah Tuhan.
GBU