Selasa, 10 April 2012

Gejala Cinta Yang Mendatangkan Jarak


Kata orang yang sedang jatuh cinta, cinta itu indah, sejuta rasanya, membuat orang selalu bahagia. Orang patah hati bilang, kalau cinta itu pengorbanan, bisa bahagia walau pun tidak bersama dengan orang yang dicintai itu, tetapi dengan syarat : asal bisa melihat orang yang dicinmtai it bahagia, walau pun dengan orang lain. Orang yang sedang punya gebetan, berpikir bahwa cinta adalah perjuangan. Bahkan ada yang berprinsip kalau sebelum janur kuning melengkung, maka masih bisa merebut pujaan hatinya itu. Nekadnya lagi kalau yang diincar itu sudah dimiliki orang, mereka berani berkata “ku tunggu jandamu”. Wah…wah…wah… samapi sedemikian rupanya orang berjuang demi sesuatu yang disebut CINTA.

Akan tetapi, tanpa disadari, ada kalanya orang justru menolak cinta yang ada untuk dirinya. Kalau ada yang bilang cinta itu membuat orang bahagia, kenapa ada yang justru bersedih darena cinta. Misalnya, orang yang bersahabat. Biasanya mereka akan bercanda-tawa, berbagi apapun dengan leluasa. Tetapi ketika satu pihak menunjukkan tanda-tanda yang lebih (ada indikasi jatuh cinta), maka tak jarang pihak yang lain akan menjaga jarak. Atau dengan teman biasa lah. Misalnya mereka baru mau dekat, mulai akrab, sehingga mulai ada perhatian yang lebih. Lalu karena salah satu pihak mengira itu adalah gejala cinta, maka dia akan jaga jarak.
Sungguh ironis memang, kalau ada orang yang mati-matian memperjuangkan cinta, tetapi di lain tempat ada yang kalang kabut takut kalau dicintai. Iya kalau yang menunjukkan tanda-tanda perhatian lebih tadi itu benar-benar jatuh cinta?! Lha kalau tidak?? 

Saya sendiri misalnya, dalam kekosonganku ini (kosong=lagi ga ada pacar) maka saya pun butuh tempat untuk mencurahkan perhatian yang saya punya. Tetapi, itu tidak serta-merta berarti saya akan mencari pelarian sebagai kekasih untuk dicintai, bukan? Karena saya tidak demikian. Saya mempunyai teman dan orang-orang yang ada di sekitar saya, atau orang yang bisa berkomunikas dengan saya. Kepada mereka lah saya memberikan perhatian. Bisa jadi itu temam kuliah, teman SMSan, teman chatting, teman pelayanan, dan yang lain sebagainya lah (pasti Anda juga tahu, kurang-lebihnya apa saja). Mungkin karena memang kerinduan saya adalah menjadi berkat untuk orang lain, maka saya memperhatikan orang itu dengan senang hati dan tanpa bermaksud yang lain. Seandainya pun ada hal lain yang terjadi (misalnya sampai pacaran), yach anggap saja itu bonus dari Tuhan :D. Tetapi kembali lagi soal berkat, yang saya rasakan adalah: saya senang memperhatikan orang yang butuh perhatian, menemani orang yang kesepian, dan ada untuk yang membutuhkan lah intinya. Kerena terkadang pada saat seperti itulah pertolongan itu menjadi terasa berharga. Coba kalau orang itu baik-baik saja, butuh bantuan (itu pasti) tetapi tidak begitu mendesak atau tidak benar-benar perlu. Maka kalau ditolong pun juga akan cepat lupa lagi. Saya tidak bermaksud mengharapkan diingat orang ketika menolongnya, tetapi ini berbicara tentang perasaan orang yang ditolong itu merasa diberkati atau tidak. Kalau yang ditolong orang sedang butuh kan dia akan merasa diberkati. Nah… itu yang sukacitanya luar biasa. 

Setelah meluas, sekarang kita kembali kepada cinta yang tadi. Nah, tidak semua orang yang memnunjukkan perhatian lebih itu karena bermaksud lain atau gejala cinta. Memperhatikan dan diperhatikan itu indah. Bukannya malah dijauhi, sebaliknya harusnya disyukuri. Karena itulah sebabnya mengapa orang perlu benar-benar MENGERTI tentang apa itu KASIH. Juka seseorang sudah mengerti kasih, maka sikap dan perhatian orang yang baik kepadanya akan disyukuri, bukan malah dicurigai. Jadi, bersyukurahn karena ada orang-orang yang mengasihimu. Jangan mengatakan kasih sayangnya itu lebay hanya karena orang lain tidak melakukan hal yang sama. Yang perlu dipertanyakan adalah orang lain yang kurang itu, kenapa kok masih kurang… Begitu…

Rabu, 04 April 2012

Tanggung Jawab

Sebenarnya tangung jawab itu bila dinikmati akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Tetapi terkadang, justru karena saking sukanya orang diberi tanggung jawab, akhirnya ada tawaran sana-sini diterima, dengan prinsip yang begitu rupa. Bisa dibilang orang yang punya tanggung jawab itu menjadi orang yang berdampak, atau punya pengaruh, bahkan bisa jadi punya kekuasaan. 
Akan tetapi terkadang kita lupa akan kemampuan kita. Yang kita tahu, bila orang percaya, kita pikir kita bisa. Memang tidak semua orang demikian, namun sebagian besar gejala yang saya lihat seperti itu. Bahkan saya sendiri termasuk salah satunya yang suka diberi tanggung jawab. Yang saya cari adalah arti hidup, ingin menjadi berkat, dan ingin punya dampak. Kerinduan saya seperti doa Yabes, yang mem,inta daerahnya diperluas, yang berarti tanggung jawabnya ditambahkan. Aji mumpung pun boleh menjadi jurus alternatif saat diperlukan.
Tetapi di saat-saat seperti ini saya baru menyadari, bahwa saya tak sekuat yang saya pikirkan. Saya hanya mengerjar apa yang saya pikirkan. Tanggung jawab banyak telah saya dapatkan. Namun terkadang semua jadi terasa berat untuk dikerjakan. Belum lagi kalau kondisi tubuh sedang melemah, aduh... rasanya tambah berat saja.
Itulah sebabnya kita butuh hikmat untuk mengambil setiap keputusan. Mungkin memang saya perlu berlajar lebih lagi untuk membedakan mana yang benar-benar menjadi bagian saya dan yang sekedar tawaran untuk saya. Tetapi yang terpenting adalah, belajar untuk setia dala perkara kecil. Setelah mampu, barulah kita benar-bemar siap untuk menjalani tanggung jawab yang lebih besar.
Hal semacam ini memang sudah begitu sering kita dengar, bahkan mungkin Anda bisa bosan. Tetapi sadarilah, bahwa ternyata semua itu tidak semudah yang kita kira untuk bisa meakoninya.