Semester ini terasa seperti semester di mana saya terbangun
dari tidur saya. Karena, setelah libur selama beberapa bulan (sekitar 4
bulanan) saya harus kembali kepada kehidupan nyata saya sebagai seorang
mahasiswa.
Yach…dan SIASAT pun membayang didepan mata. Satu malam sebelum SIASAt berlangsung, saya baru tahu kalau ada kebijakan baru, di mana system yang tadinya semester akan diubah menjadi trimester, dank arena itu maka beban SKS yang diberikan pun menyusut. Ketakutan menghantui saya dan teman-teman.
Singkat cerita, kebijakan tersebut tidak (atau mungkin belum) dijalankan. Kami kembali pada system yang lama, yaitu semester. Karena kelas yang disediakan sedikit, banyak di antara kami yang mendapat sedikit kelas pada saat SIASAT, dan pada adjustment pun masih kekurangan kelas, termasuk saya. Pada adjustment yang kedua, saya melakukan hal kurang bijak, sehingga saya hanya mempunyai 14 SKS dari 18 SKS yang sesuai flowchart. Malamnya saya mendapat tambahan 1 matakuliah, jadi 16. Saya mencoba minta 1 kelas yang sebenarnya justru menjadi prioritas saya saat siasat, yaitu Proposal.
Yach…dan SIASAT pun membayang didepan mata. Satu malam sebelum SIASAt berlangsung, saya baru tahu kalau ada kebijakan baru, di mana system yang tadinya semester akan diubah menjadi trimester, dank arena itu maka beban SKS yang diberikan pun menyusut. Ketakutan menghantui saya dan teman-teman.
Singkat cerita, kebijakan tersebut tidak (atau mungkin belum) dijalankan. Kami kembali pada system yang lama, yaitu semester. Karena kelas yang disediakan sedikit, banyak di antara kami yang mendapat sedikit kelas pada saat SIASAT, dan pada adjustment pun masih kekurangan kelas, termasuk saya. Pada adjustment yang kedua, saya melakukan hal kurang bijak, sehingga saya hanya mempunyai 14 SKS dari 18 SKS yang sesuai flowchart. Malamnya saya mendapat tambahan 1 matakuliah, jadi 16. Saya mencoba minta 1 kelas yang sebenarnya justru menjadi prioritas saya saat siasat, yaitu Proposal.
Saya mendapat masukan dari dosen kepala progdi untuk
mempertimbangkan permintaan saya tersebut. Tetapi saya tetap mencari hingga
akhirnya mendapat memo yang saya butuhkan. Tiket sudah di tangan, saya
menghubungi pihak yang berwenang kembali, dan masih dengan pertimbangan. Sampai
akhirnya, sore itu saya datang dan mendapatkan kelas tersebut.
Ketakutan saya yang baru adalah: mampukah saya? Haruskah ada 1 mata kuliah yang saya lepaskan? Tetapi saya mendapat dukungan dari teman-teman saya untuk tetap berjuang. Hal-hal yang masih terngiang di benak saya:
Ketakutan saya yang baru adalah: mampukah saya? Haruskah ada 1 mata kuliah yang saya lepaskan? Tetapi saya mendapat dukungan dari teman-teman saya untuk tetap berjuang. Hal-hal yang masih terngiang di benak saya:
- Itu kan sesuai flowchart, kalau yang lain bisa, kenapa kamu enggak?
- Itu kamu mendapat kesempatan, ambillah kesempatan yang kamu punya, jangan disia-siakan.
- (*kalau yang ini sebelum mengambil proposal) Ayo Na, kamu pasti bisa. Kalau di drama aja kamu bisa, apalagi di kehidupan nyata.
- Ayo, jangan takut Na, kan perang dimulai. Jangan takut sebelum berperang.
Dan ada beberapa yang lain juga. Dari situ saya menemukan
bahwa untuk bisa mensupport dan memberi semangat itu tak perlu mencari
motivator-motivator ternama. Tak perlu sibuk mencari-cari buku tentang
motivasi. Karena teman-teman dan orang-orang di sekeliling kita sesungguhnya
adalah motivator-motivator yang hebat!
Dan malam pada adjustment terakhir pun saya tertidur setelah
lelah pulang malam. Jadi saya hadapi 18 SKS ini dengan percaya bahwa Tuhan
ijinkan saya ambil 18 SKS ini. Keesokan harinya (hari saat saya menusil tulisan
ini), saya mengikuti doa persiapan untuk Welcoming Service di kapel.
Di situ saya mendapat 1 ayat yang sangat memotivasi saya,
yaitu:
Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah
itu sekuat tenaga, karena
tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmatdalam dunia orang mati,
ke mana engkau akan pergi. (Pengkhotbah 9:10)
Baiklah, 18 SKS dan beberapa murid les ada di tangan saya
untuk dikerjakan. Maka saya akan mengerjakan itu sekuat tenaga, selagi saya
masih hidup.
Bagi banyak orang, masa muda adalah masa di mana kita
memuaskan diri untuk bersenang-senang. Memang itu tidak sepenuhnya salah,
tetapi bukan hanya serta merta bersenang-senang, toh itu tidak perlu
berlebihan. Karena senang itu akan timbil juga ketika saya bisa melakukan
sesuatu dan berkarya, maka saya mau melakukan apa yang saya bisa, berkarya,
selagi saya masih muda.
Tuhan memberkati ^_^