Kamis, 07 April 2011

Singa

Akhirnya setelah beberapa hari saya menyimpan tulisan ini, sekarang saya dapat memuatnya di blog ini. Namun meskipun sudah beberapa hari yang lalu, ada sesuatu yang inginsaya bagikan. Silakan baca lebih detailnya di bawah ini.

Dalam suasana hiruk pikuknya kesibukan panitia Wisata Rohani mempersiapkan acara untuk besok Sabtu, 9 April 2011, ada-ada saja gejolak yang terjadi. Dari roh-roh yang mengancam kesatuan hati panitia melalui timbulnya perbedaan pendapat, arogansi, ketidakpedulian, hingga saling menyalahkan. Kemudian penglihatan-penglihatan yang ada. Ada-ada yang samapai memimpikan saya.
Malam itu (seharusnya) semua panitia berkumpul untuk mangadakan sharing bersama dan doa untuk acara Wisata Rohani. Diawali dengan doa pembukaan, kami pun saling mengeluarkan unek-unek. Memang dari saya sendiri belum benar-benar merasa lepas untuk mencurahkan semua yang saya rasakan selama ini. Tetapi pikiran saya mengingatkan saya untuk tetap terkendali supaya tidak ada yang sakit hati lagi.
Selepas dari sesi sharing bersama itu, kami masuk ke doa untuk acara wisata rohani. Karena yang bertugas ijin untuk pulang duluan, maka teman-teman meminta saya untuk berdoa mewakili semua. Kami pun berdoa bersama untuk acara kami. Setiap pribadi menyembah kepada Tuhan, bahkan teman-teman saya mengadakan penyembahan. Pada kesempatan itu, kami pun mengadakan doa semacam peperangan. Namun ketika saya dengar suasana mulai tenang, maka saya rasa doa malam itu sudah cukup, sehingga saya menutupnya. Seusainya, ada beberapa yang menceritakan apa yang mereka rasakan. Bagaimana mereka merasa belum cukup lama atas doa itu.
Singkat cerita, kami pulang. Keesokan harinya petugas music, WL, dan singer pun berlatih di kapel. Sambil menunggu kapel yang masih dipakai, ada beberapa hal yang lami kerjakan. Mulai dari berjualan donat, mengabil alat music, dan yang pasti bercerita. Sang sie music pun bercerita bahwa tadi malam dia memipikan saya menjadi seperti singa yang bernyanyi. Mendengar cerita itu, saya menjadi kawatir dalam hati. Apakah ini ada kaitannya dengan penglihatan angsa hi tam itu? Apakah ada sesuatu yang salah dengan diri saya?Namun Diah, yang meminpikan saya itu berusaha membuat saya untuk tidak memikikan mimpinya itu.
Seharian itu saya benar-benar  berharap-harap cemas. Saya berfikir untuk menceritakan hal ini kepada pendeta saya sebelum atau sesudah ibadah remaja malam itu. Atau ketika saya meluangkan berkunjung ke rumah beliau. Tetapi karena banyak hal yang harus saya kerjakan, maka rencana ke rumah beliau itu pun terpaksa dipending dulu.
Entah karena memang rencana Tuhan atau bagaimana, malam itu pada ibadah remaja, pendeta saya menyampaikan pengajaran yang berhubungan dengan mimpi saya. Beliau mengajak untuk membuka Wahyu 4:7-11. Ayat 7 mengatakan: Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasaryang sedang terbang.
Di sini, ternyata keempat makhluk itu adalah para Serafim yang menaikan puji-pujian bagi Allah. Dan keempat makhluk itu menggambarkan karakteristik para pemimpin pujian.
1.      Singa>> seperti yang kita tahu, singa itu sang raja hutan. Dia punya otoritas, dan suaranya dapat terdengar sampai radius beberapa kilometer (kalau di alam bebas). Selain itu, singa juga merupakan petarung, menang dalam peperangan.
2.      Anak lembu>> anak lembu biasanya cenderung lincah. Suka lari kesana-lari kesini, melompat, dan energic.
3.      Manusia>> suka menjaga persaudaraan, cenderung menjunjung hubungan horizontal. Kalau WL, biasanya yang suka mengajak berjabat tangn, menaikan lagulagu social. Misalnya: Hari ini Kurasa Bahagaia, Oh Betapa Indahnya,dll.
4.      Burung nasar>> burung nasar itu seperti Rajawali (menurut pengajaran yang saya dapat itu). Dengan kepak sayapnya yang kokoh, dia tenang dan naik terbang semakin tinggi. Kalau WL, ini biasanya yang dapat memimpin dengan khusyuk, tenang, namun dapat membawa jemaat untuk terangkat naik ke hadirat Allah.
Dari pengajaran tersebut, saya mulai mendapat secercah kelegaan bahwa mimpi itu tidak berarti buruk. Justru sebaliknya, itu luar biasa. Saya rindu benar-benar menjadi orang yang dipakai Tuhan, yang punya otoritas, kuat, petarung yang selalu menang di dalam peperangan sebab Tuhan selalu di pihakku. Lebih dari itu, saya juga rindu untuk memuliakan Tuhan dengan penuh semangat layaknya anak lembu yang kegirangan, tetap saling mengasihi, dan mampu membawa suasana tenang dan kusyuk layaknya burung nasar. Memang jarang ada orang yang memiliki keempat-empatnya sifat itu, sebab biasanya pribadi lepas pribadi memiliki karakteristikanya yang berbeda, misalnya salah satu dari gambaran serafim itu.
Bahkan, Yesus pun juga punya gelar Singa dari Yehuda, jadi saya tak perlu kawatir akan mimpi itu. Sungguh terpujilah nama Tuhan, Allahku, Raja di atas segala raja. Amien…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar